JogjaEkspress.Com | JSCgroupmedia ~ Bencana sering kali menyisakan luka, baik fisik maupun psikologis. Namun, bagi masyarakat Aceh, semangat juang untuk bangkit dari cobaan telah tertanam dalam jiwa mereka sejak lama.
Terutama setelah bencana banjir bandang dan longsor yang melanda sejak 25 November lalu, tekad untuk pulih dan melanjutkan kehidupan kembali begitu tinggi.
Aceh, yang memiliki sejarah panjang dalam menghadapi berbagai tantangan, kembali menunjukkan kekuatan solidaritas dan gotong royong warganya.
Muklis, seorang ayah dengan tiga anak, menjadi salah satu simbol ketangguhan masyarakat Aceh dalam menghadapi bencana. Rumahnya di Gampong Dayah Husein, Pidie Jaya, dihantam banjir bandang yang membawa material kayu dan lumpur.
Meski sempat terjebak dalam derasnya arus dan tumpukan material, Muklis berhasil selamat dan segera beraksi menyelamatkan sesama. Ia bukan hanya menjadi korban, tetapi juga pahlawan bagi tetangganya.
Dengan semangat yang tak kenal lelah, Muklis langsung turun tangan mengevakuasi warga yang masih terperangkap di atap rumah.
Saat bantuan mulai mengalir ke daerah terdampak, Muklis kembali menunjukkan kepeduliannya. Hari itu, saat rombongan Ketua TP PKK Aceh, Marlina Muzakir, bersama Staf Ahli TP PKK Aceh, Mukarramah Fadhlullah, dan istri Ketua DPR Aceh datang ke kampungnya untuk menyerahkan bantuan, Muklis terlihat berdiri tegak di pintu Gerbang Meunasah Gampong.

Ia mengenakan mukena dengan sedikit jambul yang tampak di rambutnya, sambil memandu mobil-mobil yang hendak keluar, seakan tak ada rasa lelah meski baru saja terhimpit dalam kondisi yang mengerikan.
“Trus, trus, trus,” pekiknya dengan penuh semangat, bak seorang juru parkir yang profesional. Penampilannya yang unik itu menarik perhatian Kak Na, istri Gubernur Aceh, yang dengan segera mendekat.
Kak Na yang dikenal dengan humor khasnya langsung menyapa Muklis dengan candaan ringan, “Lon pike pocong beuno. Pakon kana pocong lam Uroe supot?” (Saya kira tadi ada pocong, kok sudah ada pocong sore-sore begini?).
Muklis, dengan penuh kerendahan hati, menjawab, “Hana baje le Bu, baje bantuan leuthat keu ureung inong, ka keluh lon soek Nyoe Mantong Bu,” (Tidak ada baju lain, Bu, baju banyak untuk perempuan, ya sudah saya kenakan ini saja).
Di tengah suasana yang kental dengan canda dan keakraban, Kak Na dan rombongan tidak hanya datang membawa bantuan, tetapi juga semangat dan harapan bagi masyarakat.
Tidak hanya itu, menurut penuturan warga setempat, Muklis adalah salah satu sosok yang paling aktif dalam melakukan evakuasi. Ia bahkan menembus genangan lumpur dan kayu untuk menemui Bupati Pidie Jaya dan meminta agar akses jalan di Gampong Dayah Husein segera dibuka.
Selama beberapa hari, jalan utama menuju Gampong Dayah Husein tertutup material banjir setinggi dua meter. Namun berkat keteguhan Muklis, akses tersebut berhasil dibuka kembali, dan banyak warga yang sebelumnya terjebak di rumah masing-masing akhirnya bisa diselamatkan.
“Alhamdulillah, jalan ini baru dua hari lalu dibuka dan bisa diakses. Di hari kedua, saya berteriak sekeras-kerasnya untuk memanggil warga yang kemungkinan masih terjebak di rumah mereka. Alhamdulillah, kami berhasil mengevakuasi mereka,” ungkap Muklis dengan penuh rasa syukur.
Muklis bukanlah satu-satunya yang menunjukkan ketangguhan. Keberhasilan evakuasi ini adalah hasil dari kerja sama semua warga yang bergotong royong.
Inilah esensi dari semangat Aceh yang selalu bersatu dalam menghadapi bencana. Solidaritas adalah kunci utama dalam setiap krisis yang dihadapi oleh masyarakat Aceh.
Mengakhiri kunjungannya ke Gampong Dayah Husein, Kak Na menyemangati warga untuk tetap tabah dan sabar. “Kita terus berupaya sekuat tenaga agar bantuan di posko utama bisa disalurkan merata hingga ke wilayah-wilayah terisolir. Kami berharap masyarakat tetap sabar menghadapi cobaan ini,” kata Kak Na dengan penuh pengharapan.
Perjalanan rombongan Kak Na ke beberapa gampong terdampak lainnya, seperti Gampong Beurawang, Gampong Meunasah Mancang, Gampong Meunasah Kruet, dan Gampong Blang Cut, menunjukkan bahwa semangat Aceh tidak hanya terletak pada warga kota besar, tetapi juga di pelosok-pelosok yang terisolir.
Kisah Muklis dan semangat juang masyarakat Aceh lainnya merupakan bukti nyata bahwa bencana tidak hanya menghadirkan kesedihan, tetapi juga peluang untuk mempererat tali persaudaraan dan membangun kembali kehidupan dengan penuh harapan.
Semangat mereka mengingatkan kita bahwa di tengah kesulitan, ada kekuatan luar biasa dalam kebersamaan dan tekad untuk bertahan hidup. | JogjaEkspress.Com | */Redaksi | *** |
