JogjaEkspress.Com | JSCgroupmedia ~ Ketegangan dalam hubungan internasional semakin memanas setelah Menteri Luar Negeri Belanda, David van Weel, pada hari Minggu (17/01/2026) mengecam ancaman Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, untuk memberlakukan tarif tinggi terhadap beberapa negara Eropa terkait isu Greenland.
Van Weel menilai langkah tersebut sebagai bentuk pemerasan yang tidak hanya merugikan hubungan antara negara-negara sekutu, tetapi juga berpotensi melemahkan aliansi transatlantik yang selama ini menjadi pilar stabilitas global.
Dalam sebuah wawancara dengan stasiun televisi Belanda, NPO 1, van Weel menyatakan bahwa tindakan semacam itu sangat tidak seharusnya dilakukan antara negara-negara sekutu.
“Sekutu tidak memperlakukan satu sama lain seperti ini. Apa yang terjadi adalah pemerasan, dan itu tidak perlu. Tindakan semacam ini tidak memperkuat aliansi kita, malah bisa mengancam hubungan yang sudah terjalin lama,” ujar van Weel dengan nada serius.
“Selain itu, ini tidak akan berkontribusi pada keamanan Greenland, yang seharusnya menjadi prioritas bersama.”
Pernyataan ini muncul setelah serangkaian ketegangan yang meningkat antara Amerika Serikat, Denmark, dan Greenland, yang mencapai puncaknya setelah pertemuan antara ketiga pihak pada 14 Januari 2026.
Dalam pertemuan tersebut, Amerika Serikat berusaha mendesak Denmark untuk mempertimbangkan keputusan strategis terkait status dan kontrol atas wilayah Greenland, yang merupakan bagian dari Kerajaan Denmark.

Konteks dan Isu Greenland yang Menjadi Sorotan Global
Untuk memahami konteks dari pernyataan van Weel, penting untuk menilik lebih jauh mengenai permasalahan yang berkaitan dengan Greenland.
Sejak beberapa waktu lalu, Presiden Trump menunjukkan ketertarikan terhadap Greenland, wilayah otonom yang berada di bawah kedaulatan Denmark.
Pada tahun 2019, Trump bahkan mengusulkan untuk membeli Greenland, yang dianggapnya sebagai wilayah strategis yang sangat penting secara geopolitik, terutama terkait dengan potensi sumber daya alam dan kepentingan militer di kawasan Arktik.
Namun, proposal tersebut ditanggapi dengan penolakan tegas oleh Pemerintah Denmark, yang melihat Greenland sebagai bagian integral dari Kerajaan Denmark.
Ketegangan ini kembali memanas pada awal 2026, ketika AS mulai menekan negara-negara Eropa, termasuk Belanda, untuk mendukung kebijakan Amerika di kawasan Arktik, dengan ancaman pemberlakuan tarif terhadap negara-negara yang tidak sejalan dengan kebijakan AS terkait Greenland.
David van Weel: Sebuah Pemerasan yang Tidak Perlu
Van Weel menyatakan bahwa kebijakan seperti ini tidak hanya tidak perlu, tetapi juga tidak konstruktif. “Ancaman tarif ini bukanlah cara yang efektif untuk membangun aliansi yang kuat dan saling mendukung.
Dalam aliansi transatlantik, yang selama ini telah mengedepankan kerja sama dan dialog, pendekatan semacam ini hanya akan menciptakan ketegangan yang tidak perlu,” tambah van Weel.
Menanggapi sikap Amerika Serikat terhadap Greenland, van Weel menjelaskan bahwa Denmark dan Greenland telah berusaha untuk menunjukkan komitmen mereka terhadap isu keamanan global dengan cara yang positif.
“Denmark mengajukan permintaan kepada beberapa negara sekutu untuk bersama-sama menunjukkan kepada AS bahwa kami serius dalam menghadapi masalah keamanan di kawasan Arktik.
Niatnya sangat positif, namun kami justru dihukum karena itu,” katanya.
Pernyataan tersebut menggambarkan ketidakpuasan van Weel terhadap kebijakan yang menurutnya tidak mempertimbangkan dinamika hubungan internasional yang lebih luas.
Mengingat posisi Belanda yang selama ini menjadi mitra strategis bagi banyak negara, termasuk Amerika Serikat, van Weel merasa kecewa dengan bagaimana isu ini dihadapi.
Mengapa Greenland Sangat Strategis Bagi Amerika Serikat?
Greenland, meskipun memiliki jumlah penduduk yang kecil dan geografis yang sangat terpencil, telah menjadi perhatian utama dalam geopolitik global, khususnya dalam konteks persaingan geopolitik di kawasan Arktik.
Letaknya yang strategis di kawasan Arktik, yang semakin terbuka akibat perubahan iklim, menjadikannya sebagai pintu gerbang untuk navigasi internasional dan eksploitasi sumber daya alam yang sangat bernilai.
AS sendiri memiliki pangkalan militer di Greenland melalui Thule Air Base, yang penting dalam memantau dan menghadapi ancaman dari Rusia dan negara-negara lainnya.
Oleh karena itu, kontrol terhadap wilayah tersebut, baik melalui kerja sama dengan Denmark ataupun keputusan sepihak, dilihat sebagai langkah vital dalam menjaga dominasi geopolitik Amerika di kawasan tersebut.
Namun, langkah agresif AS yang menekan negara-negara Eropa untuk lebih mendukung kebijakan luar negeri Amerika Serikat di Greenland, dengan ancaman tarif, memicu kontroversi.
Banyak pihak, termasuk Denmark, merasa bahwa kebijakan ini lebih bersifat unilateral dan tidak mempertimbangkan keseimbangan hubungan internasional yang lebih luas.
Reaksi Negara-negara Eropa : Tanggapan terhadap Ancaman Tarif AS
Pernyataan David van Weel juga mencerminkan ketegangan yang semakin meningkat antara Amerika Serikat dan negara-negara Eropa, yang mulai merasa semakin terpinggirkan dalam pengambilan keputusan terkait kawasan Arktik.
Negara-negara Eropa seperti Belanda dan Denmark, yang memiliki kepentingan signifikan di wilayah tersebut, mulai merasa bahwa Amerika Serikat bertindak terlalu dominan dan memaksa sekutu-sekutunya untuk mengikuti keinginan AS tanpa memberikan ruang untuk dialog atau kompromi.
Ketegangan ini mengundang perhatian luas dari para pengamat hubungan internasional yang mencatat pergeseran besar dalam dinamika transatlantik.
Beberapa pihak mulai melihat langkah AS ini sebagai indikasi bahwa Amerika Serikat lebih fokus pada kepentingan nasional yang lebih sempit, daripada menjaga stabilitas aliansi internasional yang telah lama terbentuk.
Meskipun begitu, banyak juga yang berharap bahwa ketegangan ini hanya bersifat sementara dan dapat diselesaikan melalui meja perundingan.
Negara-negara Eropa berharap agar dapat menjembatani kesenjangan ini dengan mengedepankan dialog yang lebih konstruktif, serta memastikan bahwa kebijakan yang diambil benar-benar membawa manfaat bagi semua pihak, termasuk Greenland yang menjadi titik perhatian utama dalam perseteruan ini.
Pentingnya Menjaga Aliansi Transatlantik dan Keamanan Global
Dalam konteks yang lebih luas, ancaman tarif oleh AS dan ketegangan terkait Greenland ini memperlihatkan bahwa hubungan internasional kini semakin kompleks dan penuh tantangan.
Ketegangan antara negara besar dengan negara kecil atau mitra strategis seringkali terjadi ketika kepentingan nasional yang sangat berbeda bertemu.
Dalam kasus ini, isu Greenland, yang melibatkan berbagai kepentingan geopolitik, ekonomi, dan militer, menjadi arena pertarungan yang sangat menentukan bagi negara-negara yang memiliki peran besar dalam menjaga stabilitas kawasan Arktik dan keamanan global.
Menteri Luar Negeri Belanda, David van Weel, dengan jelas menunjukkan pentingnya menjaga hubungan yang sehat antara negara-negara sekutu.
“Dalam aliansi seperti NATO dan Uni Eropa, kita harus memastikan bahwa keputusan yang diambil selalu memperhatikan kepentingan bersama, bukan hanya kepentingan satu pihak saja,” katanya.
Sementara itu, banyak pengamat berharap bahwa ketegangan ini dapat segera diredakan melalui jalur diplomatik dan bahwa negara-negara sekutu dapat kembali fokus pada upaya kolektif untuk menjaga keamanan, stabilitas, dan kesejahteraan global.
Ke depan, tantangan utama bagi negara-negara besar adalah untuk tidak hanya mengedepankan kepentingan nasional semata, tetapi juga berkomitmen pada prinsip kerja sama internasional yang berkelanjutan.
Kesimpulan: Diplomasi dan Kerja Sama adalah Kunci Menghadapi Ketegangan Internasional
Ke depan, tampaknya kebijakan luar negeri akan semakin dipengaruhi oleh dinamika ketegangan internasional yang tidak hanya melibatkan negara-negara besar, tetapi juga negara-negara kecil yang memiliki peran penting dalam geopolitik global.
Dalam hal ini, diplomasi menjadi kunci untuk meredakan ketegangan dan mencari solusi yang menguntungkan bagi semua pihak, khususnya dalam kasus yang melibatkan isu strategis seperti Greenland.
Sebagai salah satu negara yang memiliki pengalaman panjang dalam diplomasi internasional, Belanda di bawah kepemimpinan David van Weel berusaha menjaga agar hubungan antar sekutu tetap harmonis, meskipun ada ketegangan terkait kebijakan Amerika Serikat.
Pemerasan, menurut van Weel, bukanlah jalan yang akan menguntungkan siapa pun, apalagi dalam menghadapi tantangan global yang semakin kompleks.

1 Comment
oke