JogjaEkspress.Com | JSCgroupmedia ~ Menjelang datangnya bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, suasana batin umat Muslim di seluruh penjuru negeri dipenuhi rasa syukur dan harapan. Ramadan bukan sekadar momentum ibadah, tetapi juga ruang refleksi sosial untuk memperkuat nilai ketertiban, empati, dan kepedulian antarsesama. Dalam konteks itulah, langkah tegas dan terukur yang dilakukan oleh Polda Sumatera Selatan melalui Operasi Pekat Musi 2026 menjadi ikhtiar strategis yang patut diapresiasi secara nasional.
Operasi yang digelar secara intensif di seluruh wilayah hukum Sumatera Selatan ini berhasil mengungkap 123 kasus kejahatan dengan total 146 tersangka diamankan. Capaian tersebut bukan sekadar angka statistik, melainkan representasi nyata dari komitmen aparat penegak hukum dalam menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) agar tetap kondusif menjelang bulan suci.
Menyasar Penyakit Masyarakat Secara Komprehensif
Kabid Humas Polda Sumsel, Nandang Mu’min Wijaya, menjelaskan bahwa Operasi Pekat Musi 2026 difokuskan pada berbagai bentuk penyakit masyarakat yang berpotensi mengganggu ketenteraman publik. Di antaranya adalah premanisme, peredaran minuman keras, serta kejahatan jalanan (street crime).
Dari total perkara yang berhasil diungkap, 52 kasus merupakan tindak premanisme, 29 kasus terkait peredaran minuman keras, dan 14 kasus kejahatan jalanan. Selain itu, aparat juga menangani kasus narkoba, perjudian, prostitusi, hingga penggunaan petasan ilegal.
Premanisme dan kejahatan jalanan kerap menimbulkan rasa takut di tengah masyarakat. Aksi pemalakan, intimidasi, hingga kekerasan fisik tidak hanya merugikan secara materiil, tetapi juga merusak rasa aman sebagai hak dasar setiap warga negara. Sementara itu, peredaran minuman keras ilegal sering menjadi pemicu tindak kriminal lainnya, mulai dari perkelahian hingga kecelakaan lalu lintas.
Dengan menyasar langsung akar-akar gangguan sosial tersebut, Operasi Pekat Musi 2026 menunjukkan pendekatan yang tidak parsial, melainkan komprehensif dan berorientasi pada pencegahan dampak jangka panjang.
Strategi Preventif dan Represif yang Berimbang
Kapolda Sumsel, Sandi Nugroho, menegaskan bahwa operasi ini merupakan langkah strategis untuk memastikan masyarakat dapat menjalankan aktivitas dan ibadah Ramadan dengan aman dan nyaman. Pernyataan tersebut mengandung pesan penting bahwa keamanan bukan hanya soal penindakan, tetapi juga tentang menciptakan ruang sosial yang sehat bagi seluruh lapisan masyarakat.

Dalam perspektif kebijakan keamanan modern, pendekatan preventif dan represif harus berjalan beriringan. Penindakan tegas terhadap pelaku kejahatan memberikan efek jera dan kepastian hukum. Namun, di sisi lain, edukasi, sosialisasi, dan pelibatan masyarakat menjadi kunci untuk mencegah munculnya potensi gangguan baru.
Operasi Pekat Musi 2026 merefleksikan keseimbangan tersebut. Patroli rutin, razia terpadu, serta pemetaan wilayah rawan dilakukan secara sistematis. Di saat yang sama, kepolisian juga mengajak masyarakat untuk berperan aktif menjaga lingkungan masing-masing.
Ramadan dan Tantangan Keamanan Sosial
Ramadan adalah bulan penuh berkah, tetapi juga memiliki dinamika sosial yang unik. Aktivitas masyarakat meningkat, terutama pada malam hari. Pusat-pusat perbelanjaan, pasar takjil, dan lokasi ibadah dipadati warga. Di sisi lain, potensi gangguan keamanan seperti pencurian, balap liar, hingga penggunaan petasan ilegal cenderung meningkat.
Penggunaan petasan, misalnya, kerap dianggap sebagai tradisi semarak Ramadan. Namun, tanpa pengawasan, hal tersebut dapat membahayakan keselamatan, terutama bagi anak-anak. Demikian pula praktik perjudian dan prostitusi yang bertentangan dengan norma hukum dan nilai moral bangsa.
Melalui operasi ini, Polda Sumsel mengirimkan pesan kuat bahwa suasana religius Ramadan harus dijaga dari praktik-praktik yang merusak tatanan sosial. Keamanan dan kekhusyukan ibadah adalah dua hal yang saling berkaitan.
Data sebagai Cermin Kinerja dan Tantangan
Pengungkapan 123 kasus dengan 146 tersangka menunjukkan adanya kerja keras aparat di lapangan. Namun, di sisi lain, data tersebut juga menjadi cermin bahwa tantangan keamanan sosial masih nyata dan kompleks.
Premanisme yang mencapai 52 kasus, misalnya, mengindikasikan perlunya sinergi lintas sektor untuk mengatasi akar persoalan, seperti pengangguran, kemiskinan, dan rendahnya akses pendidikan. Penegakan hukum memang penting, tetapi pembangunan sosial dan ekonomi juga menjadi bagian tak terpisahkan dari solusi jangka panjang.
Begitu pula dengan kasus peredaran minuman keras ilegal dan narkoba. Edukasi kepada generasi muda, penguatan peran keluarga, serta pemberdayaan masyarakat menjadi benteng utama untuk mencegah terjerumusnya individu dalam lingkaran kejahatan.
Partisipasi Publik: Kunci Keamanan Berkelanjutan
Kapolda Sumsel mengajak masyarakat untuk tidak bersikap pasif. Ajakan tersebut sangat relevan dengan konsep community policing atau pemolisian berbasis masyarakat. Keamanan bukan hanya tanggung jawab aparat, tetapi juga tanggung jawab kolektif.
Masyarakat diharapkan segera melapor apabila menemukan aktivitas yang melanggar hukum. Keberanian untuk melapor adalah bentuk kepedulian terhadap lingkungan. Dengan komunikasi yang baik antara warga dan aparat, potensi gangguan dapat dideteksi lebih dini.
Di era digital, partisipasi publik juga dapat diperkuat melalui pemanfaatan teknologi. Layanan pengaduan berbasis daring, media sosial resmi kepolisian, serta hotline darurat menjadi jembatan komunikasi yang efektif dan responsif.
Membangun Budaya Taat Hukum
Operasi Pekat Musi 2026 bukan sekadar agenda tahunan menjelang Ramadan. Lebih dari itu, operasi ini menjadi momentum membangun budaya taat hukum di tengah masyarakat. Ketika hukum ditegakkan secara adil dan konsisten, kepercayaan publik terhadap institusi penegak hukum akan meningkat.
Budaya taat hukum harus ditanamkan sejak dini melalui pendidikan karakter di sekolah dan keluarga. Nilai kejujuran, disiplin, serta tanggung jawab sosial perlu diperkuat agar generasi muda tumbuh menjadi pribadi yang sadar hukum dan berintegritas.
Dalam konteks nasional, keberhasilan Polda Sumsel dapat menjadi contoh praktik baik (best practice) bagi wilayah lain. Sinergi antara aparat, pemerintah daerah, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan elemen pemuda menjadi fondasi utama terciptanya stabilitas sosial.
Menjaga Marwah Sumatera Selatan
Sumatera Selatan dikenal sebagai provinsi yang kaya budaya dan sejarah. Dari Palembang sebagai kota tertua di Indonesia hingga berbagai kearifan lokal yang menjunjung tinggi nilai persaudaraan, daerah ini memiliki modal sosial yang kuat.
Operasi Pekat Musi 2026 menjadi bagian dari upaya menjaga marwah daerah agar tetap aman, tertib, dan bermartabat. Keamanan yang terjaga akan berdampak langsung pada iklim investasi, pariwisata, serta kesejahteraan masyarakat.
Ketika masyarakat merasa aman, aktivitas ekonomi dapat berjalan lancar. Pedagang kecil tidak lagi dihantui rasa takut akan pungutan liar. Warga dapat beribadah dengan khusyuk tanpa khawatir terhadap gangguan keamanan. Anak-anak dapat belajar dan bermain dalam lingkungan yang kondusif.
Inspirasi untuk Kolaborasi Nasional
Apa yang dilakukan Polda Sumsel mencerminkan semangat kolaborasi dan dedikasi. Pengungkapan ratusan kasus dalam waktu relatif singkat menunjukkan kesiapsiagaan dan profesionalisme aparat.
Namun, keberhasilan ini juga harus dipandang sebagai awal, bukan akhir. Tantangan keamanan akan terus berkembang seiring perubahan sosial dan teknologi. Oleh karena itu, inovasi dalam strategi pengamanan perlu terus dilakukan.
Kolaborasi dengan instansi lain, termasuk pemerintah daerah, TNI, serta organisasi masyarakat, harus diperkuat. Pencegahan kejahatan siber, pengawasan distribusi barang ilegal, hingga pembinaan terhadap mantan pelaku kejahatan menjadi agenda penting ke depan.
Ramadan sebagai Momentum Perubahan
Ramadan adalah bulan transformasi. Individu didorong untuk menahan diri, memperbaiki akhlak, dan meningkatkan kepedulian sosial. Nilai-nilai tersebut selaras dengan tujuan Operasi Pekat Musi 2026.
Keamanan yang terjaga memungkinkan masyarakat menjalankan ibadah dengan khusyuk. Di sisi lain, penindakan terhadap penyakit masyarakat menjadi pengingat bahwa kebebasan harus berjalan seiring tanggung jawab.
Semangat Ramadan hendaknya tidak berhenti pada ritual semata, tetapi juga diwujudkan dalam perilaku sosial yang lebih baik. Menolak premanisme, menjauhi narkoba, dan tidak terlibat dalam praktik ilegal adalah bentuk ibadah sosial yang nyata.
Optimisme untuk Masa Depan
Keberhasilan mengungkap 123 kasus kejahatan dalam Operasi Pekat Musi 2026 adalah bukti bahwa kerja keras dan sinergi mampu menghadirkan perubahan. Meski tantangan masih ada, optimisme harus tetap dijaga.
Dengan komitmen berkelanjutan dari Polda Sumsel dan dukungan aktif masyarakat, Sumatera Selatan dapat menjadi wilayah yang semakin aman, nyaman, dan berdaya saing. Keamanan bukan hanya target jangka pendek menjelang Ramadan, melainkan fondasi bagi pembangunan berkelanjutan.
Sebagaimana ditegaskan oleh jajaran kepolisian, seluruh fungsi operasional akan terus dioptimalkan agar masyarakat dapat menjalankan aktivitas dengan aman dan nyaman. Harapan tersebut hanya dapat terwujud apabila seluruh elemen bangsa bersatu menjaga lingkungan masing-masing.
Operasi Pekat Musi 2026 telah memberi pesan kuat: keamanan adalah hasil kerja bersama. Menyambut Ramadan 1447 H, semangat menjaga ketertiban dan menegakkan hukum harus menjadi komitmen kolektif. Dari Sumatera Selatan, inspirasi itu menyebar ke seluruh penjuru negeri—bahwa dengan tekad, sinergi, dan kepedulian, Indonesia yang aman dan bermartabat bukan sekadar cita-cita, melainkan kenyataan yang terus kita bangun bersama. | JogjaEkspress.Com | TribrataNews | *** |

1 Comment
oke